KECERDASAN
SPIRITUAL PEER COUNSELING§
Oleh: Sultoni
1. Terimalah
tugas ini karena pilihan dari Allah
“Selamat
datang” kami ucapkan, digerbang kemuliaan. Gerbang insan-insan terbaik (khoirun
nas) yang dipilih/ terpilih dari antara manusia. Yang memberi manfaat kepada mereka yang membutuhkan. Jika
seseorang diberi talenta ‘suka menggambar’, Allah punya rencana baginya
menjadikan dia orang yang akan mengabadikan keindahan semesta dalam bingkai
gambar. Jika seseorang diberi talenta ‘suka mendengarkan curhat temannya’,
Allah punya rencana terbaik baginya agar menjadi orang yang sanggup menenangkan
dan memberi alternatif solusi bagi orang-orang yang sedang mendapat cobaan.
2. Niatkan
karena Allah (ihlas)
Keihlasan
akan mendatangkan kekuatan. Jangan ukur amal kita dengan hitungan nominal
rupiah/ dolar manusia. Jika Anda tidak digaji manusia, Sang Pencipta lebih kaya
dan lebih dermawan kepada Anda. Tabungkan waktu, pikiran, ilmu yang Anda
sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan nasehat Anda. Biarkan balasan
ganjaran ada dalam hitungan Sang Maha Menghitung.
3. Lakukan
bersama Allah (Yakin)
Tidak
ada yang bisa...dan tidak akan pernah bisa....seorangpun...siapapun....memberi
pertolongan...kepada siapapun...kecuali orang-orang yang diberi ilmu Allah dan
diijinkan untuk memanfaatkan ilmu itu bagi kebaikan sesama. Tugas kita hanya
mendengarkan....jalan keluar masalah....biarkan Sang Maha Cinta yang akan
mengilhamkan.
4. Kembalikan
hasilnya kepada Allah (Pasrah)
Akan
banyak alternatif solusi yang bisa kita berikan kepada sesama yang membutuhkan.
Biarkan itu mengalir dari lesan kita. namun bermohonlah agar ‘nasehat kita’
tidak membuat mereka yang sedang dicoba, menjadi semakin bingung. Biarkan Allah
yang menuntut mereka menuju ‘jalan keluar’. Bermohonlah agar Allah memberi
jalan terbaik dan termudah bagi mereka.
5. Hiasi
hati dengan Ma’rifatullah
Hanya
hati yang mengenal Allah yang dapat membimbing hati lain bertemu Allah. Hiasi
hati dengan keyakinan akan Kuasa dan Cinta Allah. Mulailah dari diri sendjri
untuk menjadi ayat yang menguatkan dan mengisnspirasi sesama. Mereka yang sudah
pernah merasakan indahnya Cinta Allah, akan diberi kemampuan membagi energi
Cinta Allah itu sebagai ‘obat’ masalah....seberat apapun.
6. Hiasi
diri dengan akhlak mulia Rasuilullah saw.
Counselor
terbaik adalah Baginda Nabi Muhammad saw. Hiasilah diri kita dengan
akhlak-akhlak mulia Beliau. (baca pada halaman berikutnya)
7. Sambut,
dengarkan, layani dan sayangi
Senyum
Anda menjadi obat yang menenangkan mereka yang kebingungan. Sambut dengan
ucapan yang memberdayakan. Ketika mereka ‘berbicara’..dengarkan dengan dua
telinga. Layani mereka dengan sepenuh
hati. Kataklan dari dalam hati....saya datang ke sini untyk Anda....lakukan
semua itu dengan hati yang diliputi rasa sayang.
8. Menindaklanjuti
Bagilah
nomer HP Anda, akun FB Anda, email Anda....siapkan diri menjadi teman yang
mendampingi. Lakukan dalam batas kemampuan Anda.
9. Mensedekahi
Ada
kalanya seseorang yang tengah mengadapi masalah ‘rumit’ membutuhkan bantuan
amal dari kita. sedekah adalah amal yang multi fungsi. Berikan ‘sebagian’ harta
yang kita miliki untuk membantu ‘doa’ mereka yang ingin diberikan jalan keluar
dari masalahnya.
10. Mendoakan
Ikatlah
batin Anda dengan mereka yang membutuhkan, melalui doa. Dalam beberapa waktu,
berikan sebagian waktu Anda untuk disedekahkan dengan diliputi doa yang ihlas.
Boleh saja kita lakukan doa ini dalam ‘kerahasiaan’, tanpa diketahui olehnya.
Namun ada saat yang perlu juga mengatakan kepadanya bahwa kita ikut
bersama-sama menghadap ke Allah dengan turut berdoa. Ini untuk menguatkan langkah
mereka yang ingin menemui Allah, sehingga selesai masalahnya dengan sebaik-baik
penyelesaian.
Berikut
ini pedomann
Ahlaq Rasulullah bagi Peer Counseling :
a
Bila
mendatangi suatu kaum, beliau membanjirinya dengan rona wajah yang berseri (Ali
bin Abi Tholib). Sabda beliau, “Senyummu kepada saudaramu adalah shodaqoh
bagimu. Senyum, segar dan berseri menjadi ciri wajah Rasulullah saw.
b
Apabila
menoleh semua anggota badannya ikut bergerak (Hindun binti Halah). Sikap
ini ditunjukkan beliau ketika dipanggil
orang lain. Tidak cukup bagi beliau hanya memalingkan muka. Penghargaan akan dirasakan orang lain, tergantung sikap
kita menanggapi keberadaan orang tersebut.
c
Dalam komunikasi dengan orang lain :
Dari Anas ra, ia berkata, “Apabil RasululLah saw berjabat
tangan atau ada orang yang mengajak berjabat tangan, maka beliau tidak melepas
tangannya (lebih dahulu). Apabila berhadapan wajah beliau tidak mengalihkan,
sampai orang yang berhadapan dengan beliau mengalihkan lebih dahulu.
d
Apabila seseorang dipegang, maka akan terasa perasaan damai yang
menakjubkan dan sekan ada sentuhan rohani yang aneh (Hindun binti Halah)
Sentuhan ibu kepada putrinya yang sedang sakit, sering
menjadi obat. Bukan hanya minyak kayu putihnya yang menghangatkan, tetapi
tangan sang ibu-lah yang menenangkan batin. Ini terjadi karena kasih sayang ibu
bagai mentari. Begitulah Rasul kepada umatnya. Sentuhannya adalah sentuhan
kasih tak terbatas. Bahkan ketika beliau sakaratul maut, siti Fatimah, putri
beliau ketika mendekatkan telinganya ada dua ucapan terakhir Rasulullah saw,
Ummatii, Ummatii “
e
Kerahiman
Rasulullah saw
Ibnu
Jarir meriwayatkan dari Jabir ra, bahwa ada seorang yang datang kepada
Rasulullah saw untuk meminta. Beliau memberinya. Lalu ada orang lain datang
untuk meminta, maka beliau juga memberi. Datang orang lain untuk meminta, maka
beliau menjanjikannya. Umar bin Khathab bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah,
engkau dimintai kau pun memberi. Engkau dimintai lalu engkau menjanjikannya.
Seakan-akan engkau tidak senang dengan kejadian itu”.
Tergambar
bagaimana kerahiman Rasulullah yang senantiasa berusaha memenuhi hajat orang
lain, bahkan merasa tidak senang ketika hanya bisa menjanjikannya.
f
Kelembutan
Rasulullah saw
Nu’aim
meriwayatkan dari Anas ra berkata, “bahwa Rasuullah saw adalah termasuk orang
yang lemah lembut. Demi Allah, beliau tidak menolak ketika seorang hamba
laki-laki maupun perempuan dan anak kecil yang memberi air, meskipun pada pagi
hari yang sangat dingin, beliau tetap membasuh muka dan kedua lengannya. Bila ada
yang bertanya, beliau mendekatkan telinganya (memperhatikan). Beliau tidak akan
menghentikan sebelum orang yang bertanya berhenti. Tak seorang pun menerima
uluran tangan Rasul kecuali beliau menyodorkannya (jabat tangan). Beliau tidak
akan melepas sebelum orang itu melepaskan terlebih dahulu.
g
Tingkah
Laku Rasulullah saw
Dari
Ali bin Abi Tholib, “Rasulullah saw selalu tampak gembira, halus budi
pekertinya, ramah-tamah, tidak buruk ahlaqnya, tidak keras sikapnya, tidak
cemberut, tidak kelewat batas, tidak suka menghina, tidak bercanda, mudah
melupakan apa-apa yang tidak penting, tidak membuat putus asa orang yang
meminta bantuan kepadanya, tidak membuatnya kecewa, membiarkan manusia meniru
tiga hal : tidak mencela dan menghina orang lain, tidak meminta (untuk
mengatakan) rahasia pribadi, tidak berbicara kecuali hal-hal untuk meminta
pahala-Nya.
h
Majlis
Rasulullah saw
Dari
Ali bin Abi Tholib, “ Majlis beliau adalah majlis yang penuh dengan welas asih,
rasa malu, sabar dan memegang amanat. Tidak ada suara yang diucapkan dengan
nada tinggi. Yang haram tidak diok-olok, yang salah tidak dikucilkan,
sederhana, saling berlomba dalam ketaqwaan, saling merendahkan diri, yang besar
dihormati dan yang kecil disayangi. Mereka mendahulukan kepentingan orang yang
punya keperluan dan menjaga orang asing.
Pada
riwayat lain, disebutkan (Ali bin Abi Tholib), “Apabila beliau berbicara ,
orang-orang lain senantiasa menundukkan kepala seakan diatas kepala mereka ada
burung. Beliau
berbicara mereka diam dan baru setelah beliau diam mereka berbicara. Tidak ada
pertentangan (perdebatan) selagi ada beliau. Mereka tertawa apabila ada sesuatu
yang membuat tertawa. Takjub terhadap sesuatu yang membuat mereka takjub.
Bersabar kepada orang asing yang berbicara kasar dan dalam urusannya, sampai-sampai
para sahabat ribut karena hal itu. Jika demikian maka beliau bersabda, “Apabila
kalian melihat orang yang mempunyai keperluan, tolonglah. Pujian tidak diterima
kecuali sewajarnya. Jangan memotong pembicaraan seseorang sampai ia selesai
bicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar