Senin, 27 Februari 2012

Materi Peer Counseling {KECERDASAN SPIRITUAL PEER COUNSELING}


KECERDASAN SPIRITUAL  PEER COUNSELING§
Oleh: Sultoni
1.    Terimalah tugas ini karena pilihan dari Allah
“Selamat datang” kami ucapkan, digerbang kemuliaan. Gerbang insan-insan terbaik (khoirun nas) yang dipilih/ terpilih dari antara manusia. Yang memberi manfaat  kepada mereka yang membutuhkan. Jika seseorang diberi talenta ‘suka menggambar’, Allah punya rencana baginya menjadikan dia orang yang akan mengabadikan keindahan semesta dalam bingkai gambar. Jika seseorang diberi talenta ‘suka mendengarkan curhat temannya’, Allah punya rencana terbaik baginya agar menjadi orang yang sanggup menenangkan dan memberi alternatif solusi bagi orang-orang yang sedang mendapat cobaan.
2.    Niatkan karena Allah (ihlas)
Keihlasan akan mendatangkan kekuatan. Jangan ukur amal kita dengan hitungan nominal rupiah/ dolar manusia. Jika Anda tidak digaji manusia, Sang Pencipta lebih kaya dan lebih dermawan kepada Anda. Tabungkan waktu, pikiran, ilmu yang Anda sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan nasehat Anda. Biarkan balasan ganjaran ada dalam hitungan Sang Maha Menghitung.
3.    Lakukan bersama Allah (Yakin)
Tidak ada yang bisa...dan tidak akan pernah bisa....seorangpun...siapapun....memberi pertolongan...kepada siapapun...kecuali orang-orang yang diberi ilmu Allah dan diijinkan untuk memanfaatkan ilmu itu bagi kebaikan sesama. Tugas kita hanya mendengarkan....jalan keluar masalah....biarkan Sang Maha Cinta yang akan mengilhamkan.
4.    Kembalikan hasilnya kepada Allah (Pasrah)
Akan banyak alternatif solusi yang bisa kita berikan kepada sesama yang membutuhkan. Biarkan itu mengalir dari lesan kita. namun bermohonlah agar ‘nasehat kita’ tidak membuat mereka yang sedang dicoba, menjadi semakin bingung. Biarkan Allah yang menuntut mereka menuju ‘jalan keluar’. Bermohonlah agar Allah memberi jalan terbaik dan termudah bagi mereka.
5.    Hiasi hati dengan Ma’rifatullah
Hanya hati yang mengenal Allah yang dapat membimbing hati lain bertemu Allah. Hiasi hati dengan keyakinan akan Kuasa dan Cinta Allah. Mulailah dari diri sendjri untuk menjadi ayat yang menguatkan dan mengisnspirasi sesama. Mereka yang sudah pernah merasakan indahnya Cinta Allah, akan diberi kemampuan membagi energi Cinta Allah itu sebagai ‘obat’ masalah....seberat apapun. 
6.    Hiasi diri dengan akhlak mulia Rasuilullah saw.
Counselor terbaik adalah Baginda Nabi Muhammad saw. Hiasilah diri kita dengan akhlak-akhlak mulia Beliau. (baca pada halaman berikutnya)
7.    Sambut, dengarkan, layani dan sayangi
Senyum Anda menjadi obat yang menenangkan mereka yang kebingungan. Sambut dengan ucapan yang memberdayakan. Ketika mereka ‘berbicara’..dengarkan dengan dua telinga.  Layani mereka dengan sepenuh hati. Kataklan dari dalam hati....saya datang ke sini untyk Anda....lakukan semua itu dengan hati yang diliputi rasa sayang.
8.    Menindaklanjuti
Bagilah nomer HP Anda, akun FB Anda, email Anda....siapkan diri menjadi teman yang mendampingi. Lakukan dalam batas kemampuan Anda.
9.    Mensedekahi
Ada kalanya seseorang yang tengah mengadapi masalah ‘rumit’ membutuhkan bantuan amal dari kita. sedekah adalah amal yang multi fungsi. Berikan ‘sebagian’ harta yang kita miliki untuk membantu ‘doa’ mereka yang ingin diberikan jalan keluar dari masalahnya.
10.  Mendoakan
Ikatlah batin Anda dengan mereka yang membutuhkan, melalui doa. Dalam beberapa waktu, berikan sebagian waktu Anda untuk disedekahkan dengan diliputi doa yang ihlas. Boleh saja kita lakukan doa ini dalam ‘kerahasiaan’, tanpa diketahui olehnya. Namun ada saat yang perlu juga mengatakan kepadanya bahwa kita ikut bersama-sama menghadap ke Allah dengan turut berdoa. Ini untuk menguatkan langkah mereka yang ingin menemui Allah, sehingga selesai masalahnya dengan sebaik-baik penyelesaian.

Berikut ini pedomann Ahlaq Rasulullah bagi Peer Counseling :

a        Bila mendatangi suatu kaum, beliau membanjirinya dengan rona wajah yang berseri (Ali bin Abi Tholib). Sabda beliau, “Senyummu kepada saudaramu adalah shodaqoh bagimu. Senyum, segar dan berseri menjadi ciri wajah Rasulullah saw.

b        Apabila menoleh semua anggota badannya ikut bergerak (Hindun binti Halah). Sikap ini ditunjukkan  beliau ketika dipanggil orang lain. Tidak cukup bagi beliau hanya memalingkan muka. Penghargaan akan dirasakan orang lain, tergantung sikap kita menanggapi keberadaan orang tersebut.

c        Dalam komunikasi dengan orang lain :
Dari Anas ra, ia berkata, “Apabil RasululLah saw berjabat tangan atau ada orang yang mengajak berjabat tangan, maka beliau tidak melepas tangannya (lebih dahulu). Apabila berhadapan wajah beliau tidak mengalihkan, sampai orang yang berhadapan dengan beliau mengalihkan lebih dahulu.

d        Apabila seseorang dipegang, maka akan terasa perasaan damai yang menakjubkan dan sekan ada sentuhan rohani yang aneh (Hindun binti Halah)
Sentuhan ibu kepada putrinya yang sedang sakit, sering menjadi obat. Bukan hanya minyak kayu putihnya yang menghangatkan, tetapi tangan sang ibu-lah yang menenangkan batin. Ini terjadi karena kasih sayang ibu bagai mentari. Begitulah Rasul kepada umatnya. Sentuhannya adalah sentuhan kasih tak terbatas. Bahkan ketika beliau sakaratul maut, siti Fatimah, putri beliau ketika mendekatkan telinganya ada dua ucapan terakhir Rasulullah saw, Ummatii, Ummatii “

e         Kerahiman Rasulullah saw
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Jabir ra, bahwa ada seorang yang datang kepada Rasulullah saw untuk meminta. Beliau memberinya. Lalu ada orang lain datang untuk meminta, maka beliau juga memberi. Datang orang lain untuk meminta, maka beliau menjanjikannya. Umar bin Khathab bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah, engkau dimintai kau pun memberi. Engkau dimintai lalu engkau menjanjikannya. Seakan-akan engkau tidak senang dengan kejadian itu”.
Tergambar bagaimana kerahiman Rasulullah yang senantiasa berusaha memenuhi hajat orang lain, bahkan merasa tidak senang ketika hanya bisa menjanjikannya.

f          Kelembutan Rasulullah saw
Nu’aim meriwayatkan dari Anas ra berkata, “bahwa Rasuullah saw adalah termasuk orang yang lemah lembut. Demi Allah, beliau tidak menolak ketika seorang hamba laki-laki maupun perempuan dan anak kecil yang memberi air, meskipun pada pagi hari yang sangat dingin, beliau tetap membasuh muka dan kedua lengannya. Bila ada yang bertanya, beliau mendekatkan telinganya (memperhatikan). Beliau tidak akan menghentikan sebelum orang yang bertanya berhenti. Tak seorang pun menerima uluran tangan Rasul kecuali beliau menyodorkannya (jabat tangan). Beliau tidak akan melepas sebelum orang itu melepaskan terlebih dahulu.

g        Tingkah Laku Rasulullah saw
Dari Ali bin Abi Tholib, “Rasulullah saw selalu tampak gembira, halus budi pekertinya, ramah-tamah, tidak buruk ahlaqnya, tidak keras sikapnya, tidak cemberut, tidak kelewat batas, tidak suka menghina, tidak bercanda, mudah melupakan apa-apa yang tidak penting, tidak membuat putus asa orang yang meminta bantuan kepadanya, tidak membuatnya kecewa, membiarkan manusia meniru tiga hal : tidak mencela dan menghina orang lain, tidak meminta (untuk mengatakan) rahasia pribadi, tidak berbicara kecuali hal-hal untuk meminta pahala-Nya.

h        Majlis Rasulullah saw
Dari Ali bin Abi Tholib, “ Majlis beliau adalah majlis yang penuh dengan welas asih, rasa malu, sabar dan memegang amanat. Tidak ada suara yang diucapkan dengan nada tinggi. Yang haram tidak diok-olok, yang salah tidak dikucilkan, sederhana, saling berlomba dalam ketaqwaan, saling merendahkan diri, yang besar dihormati dan yang kecil disayangi. Mereka mendahulukan kepentingan orang yang punya keperluan dan menjaga orang asing.
Pada riwayat lain, disebutkan (Ali bin Abi Tholib), “Apabila beliau berbicara , orang-orang lain senantiasa menundukkan kepala seakan diatas kepala mereka ada burung. Beliau berbicara mereka diam dan baru setelah beliau diam mereka berbicara. Tidak ada pertentangan (perdebatan) selagi ada beliau. Mereka tertawa apabila ada sesuatu yang membuat tertawa. Takjub terhadap sesuatu yang membuat mereka takjub. Bersabar kepada orang asing yang berbicara kasar dan dalam urusannya, sampai-sampai para sahabat ribut karena hal itu. Jika demikian maka beliau bersabda, “Apabila kalian melihat orang yang mempunyai keperluan, tolonglah. Pujian tidak diterima kecuali sewajarnya. Jangan memotong pembicaraan seseorang sampai ia selesai bicara.



§ disampaikan dalam Pelatihan Calon Peer Couseling Biro Tazkia STAIN Salatiga, 27 Pebruari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar